“Kamu telah mengerjakan PR-mu …”

Dalam suatu acara kontes di salah satu TV swasta, seorang juri dan si presenter yang ada di panggung beberapa kali mengucapkan ini, memuji salah seorang peserta. Berulang-ulang pula, mereka berdua menegaskan bahwa yang mereka maksud adalah kalimat berbahasa Inggris “You’ve done your homework“.

Menurut saya ucapan-ucapan mereka ini akan sulit dipahami khalayak di Indonesia. Kalaupun banyak yang ‘merasa mengerti’, saya tebak juga akan salah kaprah. Kebanyakan orang Indonesia akan sulit memahami ungkapan di atas karena ada beda budaya ‘mengerjakan PR’ antara di Indonesia dan di negara-negara berbahasa Inggris.

Di Indonesia siswa-siswa sekolah (bahkan juga di perguruan tinggi) mengerjakan PR setelah guru/dosen menjelaskan suatu bab. Kemudian, PR digunakan untuk mendalami materi pelajaran sehingga di pertemuan berikutnya pelajaran bisa langsung dilanjutkan. Itu pun kalau siswa mengerjakan PR sendiri. Itu juga kalau siswa mau mengerjakan PR. (pasti banyak di antara kita yang pernah mengalami😉 ) Berdasarkan pengalaman sendiri, saya ingat ada bapak dosen yang mencoba menepati metode SKS, dan hasilnya langsung gagal total karena mahasiswa tidak siap materi. Akhirnya toh perkuliahan kembali seperti sistem ‘klasik’ yang biasa kita kenal.😦

Di negara-negara berbahasa Inggris, ditanamkan kebiasaan agar siswa melakukan persiapan SEBELUM guru menjelaskan materi pelajaran, termasuk mengerjakan PR. Buku teks sudah dibaca dan PR sudah dikerjakan sebelum siswa mendengarkan guru/dosen menjelaskan atau mengajak berdiskusi. Saat di kelas, siswa menerima penjelasan dengan sudah berbekal pengertian awal, sehingga dia bisa bertanya jika dia merasa ada yang belum dimengerti dari bacaan, atau bahkan jika ada pemahaman yang salah dari yang dia baca sebelumnya. Setelah kelas berakhir, siswa diharapkan mengulang-ulang lagi materi yang sama dan berlatih lagi berbekal pemahaman barunya dari penjelasan guru/dosen.

Dengan demikian, 1 jam pelajaran sebelum kelas, 1 jam pelajaran di kelas, 1 jam pelajaran sesudah kelas. Teman-teman yang pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi pasti pernah mendengar konsep ini. Ya, inilah sistem SKS (bukan SKS: Sistem Kebut Semalam atau apapun yang diplesetkan lainnya). Tentu saja, di negara-negara barat pun, belum tentu semua siswa melaksanakannya.

Ada adegan menarik di film Legally Blonde, dibintangi Reese Witherspoon. Elle, tokoh yang diperankan Ms. Witherspoon, masuk ke Harvard Law School. Nampak dari rangkaian adegan yang ditampilkan bahwa Elle tidak terbiasa dengan sistem SKS. Sang profesor langsung mengajak berdiskusi materi di pertemuan pertemuan pertama (tanpa menjelaskan materi sama sekali sebelumnya). Waktu Elle ditanyai pendapatnya dalam diskusi itu, dia langsung kehabisan kata-kata. Sesuai tradisi mereka, mahasiswa yang tidak siap materi saat di kelas langsung dikeluarkan.😯

Image

Akhirnya, kembali ke permasalahan semula, ungkapan “You’ve done your homework” sebenarnya bermakna “Kamu telah benar-benar melakukan persiapan” atau singkatnya “Kamu sudah siap”. Sederhana sekali ‘kan? Sayangnya, untuk benar-benar mengerjakannya agaknya tidak semudah menulis kalimat ini. Agaknya we still need to do our homework as the youth of our nation ….

 

 

 

//

Huruf Arab, Bahasa Arab, Huruf Latin, Bahasa Latin …?

Artikel ini ditulis dengan latar belakang pertanyaan-pertanyaan yang sering dilayangkan oleh siswa-siswi SDIT Al Hikmah Bintara. Pada saat belajar Baca Tulis Al Qur’an atau Pendidikan Agama Islam, mereka sering pertanyaan-pertanyaan semacam ini:

“Ditulis dengan Bahasa Indonesia?”

“Ditulis dengan Latin?”

“Ditulis dengan huruf Arab?”

“Ditulis dengan huruf Latin?”

“Ditulis dengan bahasa Arab?”

“Ditulis dengan bahasa Latin?”

Lima pertanyaan teratas masih dapat dipahami. Namun, pertanyaan terbawah “Ditulis dengan bahasa Latin?” sepertinya perlu diluruskan. Saya ragu apa ada dari siswa-siswi SDIT Al Hikmah – bahkan, guru-gurunya sekalipun – yang memahami Bahasa Latin. Kalaupun ada, pasti sedikit sekali.

Karena pertanyaan-pertanyaan tersebut berkaitan dengan huruf dan bahasa, tiada salahnya menurut saya jika dibuatkan artikel pendek yang menjelaskan perihal huruf Latin dan bahasa Latin.

Ada dua jenis huruf yang populer secara nasional di Indonesia saat ini: huruf Arab dan huruf Latin. Yang Anda baca saat ini adalah huruf Latin. Penggunaan huruf Arab yang paling terkenal, tentu saja, adalah untuk menuliskan Al-Qur’an, kitab suci umat Islam.

Di zaman kuno dua jenis huruf tersebut memang hanya untuk menuliskan bahasa yang senama dengannya: huruf Latin untuk menuliskan bahasa Latin, huruf Arab untuk menuliskan bahasa Arab.

Bahasa Arab, huruf Arab, negeri Arab, pembaca tentu sudah tahu. Di lain pihak, pembaca umumnya hanya akrab dengan huruf Latin, tetapi tidak dengan bahasa Latin dan ‘negeri Latin’.Kebanyakan orang di Indonesia hanya tahu bahasa Latin sebagai bahasa biologi

Alangkah baiknya jika hal-hal tersebut ditegaskan lagi. Berikut ini ditampilkan keterangan-keterangan yang bisa dijadikan perbandingan.

Inilah negeri Arab – yaitu Jazirah Arab, negeri asal bangsa Arab kuno.

Image

Kemudian, inilah contoh bahasa Arab yang ditulis dengan huruf Arab:

رَأَیْتُ صُوْرَةً

سَمِعْتُ صَوْتًا

Huruf Arab yang asli (yang digunakan di Al Qur’an) hanya 28 atau 29, tergantung sudut pandangya. Inilah yang disebut Huruf Hijaiyyah.

ا ب ت ث ج ح خ د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ع غ ف ق ك ل م ن و ه ء ي

Karena pengaruh penyebaran agama Islam, huruf Arab digunakan juga untuk menuliskan bahasa-bahasa lain, misalnya bahasa Persia (di Iran), bahasa Pashto (di Afghanistan), bahasa Urdu (di India dan Pakistan), bahasa Turki Utsmani (dahulu diTurki), bahkan bahasa Melayu (di Malaysia dan dahulu di Indonesia). Tentunya, karena bahasa-bahasa di atas sangat berbeda dengan bahasa Arab dalam hal tata bahasa atau bunyi bahasa, mereka membuat huruf-huruf tambahan semacam ini yang sesuai dengan bahasa mereka.

پ – چ – ژ – گ– ڭ– ڠ– ٹ – ځ – ڈ– ڑ– ڻ

Masih banyak lagi huruf tambahan yang ada di bahasa-bahasa kaum muslimin di seluruh dunia yang masih menggunakan huruf Arab.

Sekarang kita beranjak kepada kata Latin.

Kata Latin berarti ‘berasal dari Latium’.

Pertanyannya: “Di mana itu Latium?”

Pasti sedikit saja orang yang bisa menjawabnya. Lain halnya jika pertanyaannya diubah: “Di mana itu klub Lazio?”

Banyak orang bisa menjawabnya: kota Roma. Ya, kawan-kawan. klub AS Roma dan klub Lazio berasal dari kota yang sama: kota Roma, ibukota Italia saat ini. Lazio adalah nama modern untuk kawasan di sekitar kota Roma (semacam Jabodetabek-nya Italia). Di zaman kuno Lazio disebut Latium.

Dengan demikian, istilah Latin lebih bisa dimengerti. Bahasa Latin adalah bahasa orang-orang zaman kuno di kawasan Roma dan sekitarnya. Akan lebih mudah jika disebutkan bahwa bahasa Latin adalah bahasa bangsa Romawi.

Inilah negeri Latin – yaitu Kawasan Latium di semenanjung Italia, negeri asal bangsa Romawi kuno .

Image

Kemudian, ditampilkan juga kalimat-kalimat yang artinya kurang lebih sama dengan kalimat-kalimat contoh Bahasa Arab di atas – sebagai pembanding. Inilah bahasa Latin yang ditulis dengan huruf Latin:

VIDEO PICTURAM

AUDIO SONUM

Walaupun Bahasa Latin sangat asing bagi orang Indonesia, tentunya pembaca masih bisa mengenali kata-kata di atas. Hampir semuanya sudah diserap ke dalam Bahasa Indonesia.

Huruf asli bahasa Latin semula hanya ada 22.

A B C D E F G H I K L M N O P Q R S T V Y Z

Huruf Latin tersebar ke berbagai penjuru Eropa hingga hampir seluruh Eropa sekarang menggunakan huruf Latin untuk menuliskan bahasa masing-masing, misalnya bahasa Inggris, bahasa Belanda, bahasa Jerman, bahasa Prancis, bahasa Polandia, dan sebagainya. Seperti kaum musimin menambahkan huruf-huruf tertentu agar huruf yang mereka gunakan sesuai dengan bahasa mereka, bangsa-bangsa Eropa juga menambahkan berbagai huruf sehingga menjadi yang kita kita kenal sekarang, ditambah berbagai huruf tambahan yang khas di bahasa tertentu.

J – U – W – Ä – Ö – Ç – È – É – Ê – Ë – Ð – Æ – Å – Ø – ß – Ã – Õ – Ñ

Masih banyak lagi huruf tambahan yang ada di bahasa-bahasa Eropa menggunakan huruf Latin. Cerita selanjutnya, semua pasti sudah hapal. Bangsa-bangsa Eropa menyerbu negeri-negeri muslim di seluruh dunia serta menguasainya dan perlahan-lahan kaum muslimin meninggalkan huruf Arab untuk menuliskan bahasa mereka.

Apa kaitannya dengan Bahasa Indonesia yang kita gunakan saat ini?

Bahasa Melayu (yang salah satu perkembangannya menjadi bahasa persatuan kita sekarang – Bahasa Indonesia) sempat ditulis dengan beberapa macam huruf. Pada zaman Hindu-Buddha, Bahasa Melayu ditulis dengan huruf Pallawa dari India – salah satu hasil modifikasi huruf Pallawa adalah huruf Jawa yang masih bisa dibaca di Malioboro dan seluruh Yogyakarta. Pada masa Islam, Bahasa Melayu ditulis dengan huruf Arab. Setelah Indonesia merdeka, para pemimpin negara kita memutuskan bahasa persatuan kita harus ditulis dengan huruf Latin untuk keperluan resmi.

Dengan demikian, sebenarnya kita bisa saja menuliskan Bahasa Indonesia dengan macam-macam huruf karena memang sejarah bangsa kita mengunakan ketiga-tiganya. Jika dua kalimat contoh di atas ditulis dengan huruf Arab dan huruf Latin, lebih kurang akan tertulis seperti ini.

سایا ملیهات غمبر

سایا مندعر سوارا

dan

Saya melihat gambar.

Saya mendengar suara.

Jadi, jelaslah bagi kita, bahwa sekarang  dijawab oleh guru hanyalah lima pertanyaan teratas dari pertanyaan-pertanyaan anak-anak di awal artikel ini. Pertanyaan terbawah sebaiknya tidak perlu dijawab karena anak-anak akan makin bingung,🙂 .

Beri spasi, Bagi Menjadi Paragraf, Beri Titik dan Koma, dan Lain-Lain …

Bacalah kalimat berikut.

HARIINIGURUGURUSDITALHIKMAHSIBUKMEMBUNGKUSULANGBARANGBARANG

YANGAKANDISUMBANGKANDALAMRANGKABAKTISOSIALSDITALHIKMAHADABE

BERAPALOKASIPEMBERIANSUMBANGANBAKTIOSIALDIANTARANYAMASJIDAL

MUHAJIRINSDALWATHONIYAHBINTARAEMPATBELASBINTARALIMABELASBIN

TARATUJUHBELASDANLAINLAINBESOKSENINBARANGBARANGTERSEBUTAKAN

DIBAGIKANOLEHGURUGURUBERSAMASAMAMURIDMURIDKELASEMPATLIMADAN

ENAMSEMOGASEMUABERJALANDENGANLANCARSEMOGAALLAHMENERIMAAMAL

SHOLEHPARAPEMBERIBANTUANSEMOGABARANGBARANGTERSEBUTBERMANFA

ATBAGIORANGORANGYANGLAYAKMENERIMANYAAMIN

Sulit dipahami, bukan?

Bersyukurlah bahwa para ahli bahasa telah menyusun berbagai aturan agar karya tulis bisa dibaca dengan mudah dan nyaman.

Caranya antara lain:

1. memberikan spasi (jarak) antarkata

2. membagi-bagi tiap pokok pikiran menjadi paragraf

3. menambahkan tanda-tanda baca (misalnya titik, koma, titik dua, tanda hubung).

Yang tidak kalah penting adalah adalah adanya pembedaan antara huruf kapital dan huruf kecil. Zaman dahulu hanya ada huruf kapital, juga tidak ada tanda-tanda baca. Lihatlah naskah kuno dari masa abad ke-5 Masehi. Naskah tersebut ditulis dalam Bahasa Latin, bahasa bangsa Romawi.

Sekali lihat saja sudah malas membacanya, bukan?

Jadi, siswa-siswi di sekolah janganlah merasa diberatkan dengan adanya pelajaran Bahasa Indonesia yang juga mempelajari ejaan yang benar dan tanda-tanda baca yang benar. Syukurilah aturan-aturan yang sudah dibuat itu karena aturan-aturan bahasa dibuat semata-mata untuk memudahkan orang yang membaca untuk memahami karya si penulis.

Tulisan di atas akan berupa seperti ini dengan aturan penulisan Bahasa Indonesia yang berlaku saat ini.

Hari ini guru-guru SDIT Al-Hikmah sibuk membungkus ulang barang-barang yang akan disumbangkan dalam rangka Bakti Sosial SDIT Al-Hikmah. Ada beberapa lokasi pemberian sumbangan Bakti Sosial, di antaranya Masjid Al-Muhajirin, SD Al-Wathoniyah, Bintara 14, Bintara 15, Bintara 17 dan lain-lain.

Besok Senin barang-barang tersebut akan dibagikan oleh guru-guru bersama murid-murid kelas 4, 5, dan 6. Semoga semua berjalan dengan lancar. Semoga Allah menerima amal sholeh para pemberi bantuan. Semoga barang-barang tersebut bermanfaat bagi orang-orang yang layak menerimanya. Amin.

Semoga tulisan ini dapat memotivasi para pelajar agar tidak jemu mempelajari dan mematuhi aturan penulisan dan ejaan yang benar. Semua itu dalam rangka memudahkan orang-orang yang membaca karya tulis kamu. Kalau kamu asal-asalan menulis karyamu tanpa aturan, orang lain pun akan malas (tidak tertarik) membaca karyamu. Hargailah pembaca, maka pembaca akan menghargai karyamu. Dengan demikian, sebenarnya kamu telah menghargai dirimu sendiri.

Apa bedanya? – Pola-pola Kalimat Bahasa Inggris

Untuk Kelas 4 ke atas

 

Pelajaran Bahasa Inggris Sekolah Dasar sebenarnya mudah. Tidak banyak pola kalimat yang diajarkan. Dari pelajaran-pelajaran kalimat present (masa kini), ada dua yang diajarkan di sekolah dasar, yaitu Simple PresentTense dan Present Continuous Tense (juga disebut  Present Progressive Tense).

 

Oke, lupakan nama-nama yang sulit! LUPAKAN!!!

Kita sebut saja selanjutnya, kalimat yang tidak menggunakan -ing dan kalimat yang menggunakan -ing.

Mudahnya, dua pola kalimat itu akan tertulis menjadi seperti di bawah ini.

(Kita pilih kata kerja eat yang berarti ‘bangun’)

1. I eat.

2. I am eating.

 

Kalau dua kalimat itu diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kedua-duanya artinya sama:

“Saya makan”.

Namun, ada bedanya. Bangsa Inggris sangat mementingkan pembedaan pola kalimat tergantung pada situasi kalimat itu.

Kalau kamu ingin mengucapkan kebiasaan atau kegiatanmu yang tiap hari kamu lakukan, atau yang dilakukan dengan jadwal teratur, ucapkan dengan bentuk no. 1, misalnya

I eat rice.

Kalimat di atas bisa saja ditambahi dengan kata keterangan waktu yang kamu mau, misalnya everyday (tiap hari), every night (tiap malam), every week (tiap pekan), dan lain-lain, asalkan kegiatan itu rutin/teratur. 

Kalau kamu ingin mengucapkan kebiasaan atau kegiatanmu yang sedang kamu lakukan, ucapkan dengan bentuk no. 2 (ditambahi am, is, are + -ing)), misalnya

I am eating rice.

Kalimat di atas bisa saja ditambahi dengan kata keterangan waktu yang kamu mau, misalnya now (sekarang/saat ini), at the moment (sekarang/saat ini), at present (sekarang/saat ini), dan lain-lain. Biasanya kalimat di atas diterjemahkan menjadi ‘Saya sedang makan nasi’, tanpa kata ‘sedang’ juga tidak apa-apa.

Belajar Bahasa Inggris sama dengan belajar memahammi cara berpikir orang Inggris. Ingat-ingat itu, maka insyaallah jalan pikiran otak kita tidak bertabrakan dengan isi pelajaran Bahasa Inggris, yaitu isi otak orang Inggris.

Telusur Alam SDIT Al Hikmah Bintara, 17 Juli 2012

Acara khusus dalam rangka MOS di SDIT Al Hikmah Bintara tanggal 17 Juli 2012. Kelas 1 (yang baru lulus TK), kelas 2 (yang baru naik dari kelas 1) dan kelas 3 (yang baru naik dari kelas 2) mengikuti acara Telusur Alam. Rute perjalanan tidak jauh-jauh, hanya di sekitar SDIT Al Hikmah, bahkan tidak sampai menyeberang Jalan Bintara Raya. Ini rutenya di sekitar Bintara XVII.

Image 

Persiapan pemberangkatan sudah mulai sejak pukul 07.30. Adik-adik kelas 1, 2, 3 berkumpul di Lapangan Futsal SDIT Al Hikmah (lapangan baru lhooo … :-)). 

Hiruk-pikuk siswa-siswi dan guru-guru serta para anggota staf yang terlibat pun terdengar di sana-sini.

 

Suara krasak-kresek juga terdengar dari kerumunan (bukan barisan, anak-anak Al hikmah tidak bisa baris karena jarang dilatih Pelajaran Baris-Berbaris :-p). Apakah gerangan? Oh, ternyata suara kantong plastik yang mereka bawa. Isinya bekal sekedarmya untuk perjalanan singkat mereka: air dalam kemasan, roti sobek, serta barang-barang lain yang berkaitan dengan tugas-tugas. 

Image 

Para peserta Telusur Alam 2012, siswa-siswi SDIT Al Hikmah Bintara yang hebat-hebat. Denisa jangan lemes gitu, dong …😦 kan acara ini buat seneng-seneng ….

Katanya anak-anak kelas 1, 2 dan 3 akan berangkat tanpa didampingi guru? Wah, hebat banget mereka? Nggak takut kesasar? Apa-apaan guru-guru ini? Siswa-siswa kecil kok tidak didampingi?

Ah, jangan khawatir, Pemirsa. Rupanya mereka tidak berangkat begitu saja, Ada kakak-kakak dari kelas 5 dan 6 yang siap mendampingi mereka dalam suka dan duka… (hik, … lebay). Siapkah kakak-kakak ini? Tentu saja, mereka sudah menyusuri jalur perjalanan itu puluhan kali. Mental dan skill mereka pun sudah terlatih. Namanya saja keren, PEGASUS = Pasukan Penggalang Khusus. Hebat ‘kan?

Image 

Inilah sebagian kakak-kakak PEGASUS yang akan mendampingi adik-adik kelas 1, 2, 3. Kakak-kakak baik, jangan galak-galak, yah? Mukanya juga jangan serem gitu, atuh … adik-adik kan jadi takut ….

Ah … ternyata di sepanjang perjalanan juga ada guru-guru yang bersiap berjaga di setiap tikungan supaya peserta Telusur Alam tidak salah belok, lalu tersesat. Guru-guru Al Hikmah memang baik-baik …🙂.

Acara ‘menjelang puncak’ adalah Halang Rintang di lapangan voli di Bintara XVII. Meskipun dengan peralatan sederhana, para peserta tetap antusias mengikuti acara. Siswa-siswi diharuskan menjalani aktivitas motorik yang diharapkan dapat men-stimulus perkembangan psikomotorik mereka (wueh, … bahasanya susah banget …). Ada tiga gerakan dasar yang dilakukan di sini: loncat (atau lompat, gerakan yang mana pun boleh), merangkak, dan meniti balok (menjaga keseimbangan).

 Image

Inspeksi sebelum menempuh rintangan

 Image

Sedang merenungkan langkah besar yang akan diambil di hadapannya … What should I do?

Image 

Yak! Ayo merangkak … dan loncat!

 Image

Wajah ceria dan percaya diri calon penerus bangsa

 Image

Calon anggota KOWAD???

 Image

Antre beras … eh, bukan, ini ber-‘baris’ menanti pemberangkatan tim ke pos berikutnya ….

Perjalanan dilanjutkan ke pos berikutnya, pos terakhir, yaitu SDIT Al Hikmah. Acara puncak telah menanti: Perang Air! Bagaimana kisahnya? Ikuti berita selanjutnya. CIAO!